* Penyiar
Bakat
menghibur juga mesti dimiliki oleh seseorang yang ingin menjadi penyiar
radio. Bakat itu diperlukan karena profesi penyiar radio dituntut mampu
menghibur hati para pendengar radio. ”Citra industri radio itu identik
dengan industri hiburan. Karena itu seorang penyiar radio mesti memiliki
bakat entertain agar mampu memberi hiburan kepada
pendengarnya. Karena itu seorang penyiar radio hampir sama dengan artis.
Pada kondisi apa pun, mereka harus mampu tampil fresh dalam memberikan keceriaan di telinga pendengar radio.
”Meskipun
sedang sedih, selama jam siaran penyiar radio mesti mampu membalikkan
kesedihan menjadi kegembiraan yang didengarkan kepada pendengar. Karena
itu penyiar radio mesti mampu berakting seperti artis. Kekhasan karakter
suara juga menjadi modal yang perlu dipersiapkan oleh calon penyiar
radio. Modal ini sudah pasti dibutuhkan karena profesi penyiar radio tak
lepas dari segala sesuatu yang berhubungan dengan suara. Pendidikan
formal tetap menjadi faktor penting yang perlu dipersiapkan oleh calon
penyiar radio. Karena, pada intinya pendidikan formal dibutuhkan untuk
memperluas cakrawala pengetahuan penyiar radio.
Penyiar
radio memang harus memiliki pengetahuan yang luas. Pasalnya, seorang
penyiar radio terkadang berhadapan dengan situasi yang tak terduga.
”Dalam sebuah siaran interaktif, pendengar radio terkadang memberi
pertanyaan di luar topik. Karena itu kalau penyiar radio tak memiliki
pengetahuan luas, situasi tersebut dapat menjadi bumerang,” seorang
penyiar radio juga perlu memiliki penampilan yang cukup menarik. Karena,
selain bertugas siaran di dalam studio siaran, penyiar radio terkadang
bertugas sebagai reporter yang harus mencari berita ke luar kantor
sekaligus menyiarkannya secara langsung lewat telepon genggam. Karena
berinteraksi dengan aktivitas di luar kantor, lanjut Bambang, penampilan
penyiar radio perlu juga diperhatikan untuk menjaga citra
perusahaan.Untuk memiliki wawasan yang luas, penyiar harus rajin baca
–baca koran tiap hari, majalah, artikel, buku, juga sering nonton berita
televisi dan acara lainnya. Lebih baik lagi jika penyiar sering ikut
hadir dalam acara diskusi, seminar, dan semacamnya.Penyiar bisa menjadi
andalan pendengar tentang banyak isu atau kejadian. Meraka, pendengar,
selalu menganggap penyiar itu pergaulan dan wawasannya luas, sehingga
”banyak tahu” dan ”tahu banyak”. Penyiar harus in-touch dengan apa yang
sedang menjadi pusat perhatian masyarakat. Dengan kata lain, kita harus
“gaul” seperti mereka.Lagi pula, bisa jadi penyiar setiap hari
berhadapan dengan naskah yang berbeda. Nah, dalam menggunakan naskah itu
sebagai bahan siaran, misalnya tips atau informasi aktual (berita),
penyiar harus paham betul isi naskah itu. Belum lagi kalau harus siaran
talkshow, bincang-bincang dengan narasumber. Dijamin, kalo penyiar
banyak baca, sehingga banyak tahu dan tahu banyak, siarannya akan
berkualitas, ”bernas”, berisi, intelek, dan disukai pendengar. Siarannya
tidak cuma bermodal suara bagus, tapi juga wawasan yang luas.
Itulah
sebabnya, tidak sedikit radio mensyaratkan penyiarnya minimal D3,
pernah kuliah, jurusan apa saja, tidak mesti jurusan broadcast atau
penyiaran. Orang yang pernah kuliah diasumsikan ”haus ilmu” dan ”daya
nalar”-nya terasah semasa kuliah. Pengalaman akademis dan intelektualnya
sangat menunjang dirinya dalam siaran yang didengar banyak orang dengan
berbagai tingkat kecerdasan dan pengetahuan. Karena pada intinya,
pendidikan formal itu dibutuhkan untuk memperluas cakrawala pengetahuan.
Penyiar
juga terkadang berhadapan dengan situasi yang tak terduga. ‘Dalam
sebuah siaran interaktif, pendengar radio terkadang memberi pertanyaan
di luar topik.
Tentu
saja, selain wawasan, penyiar juga harus menguasai teknik vokalisasi
dan verbalisasi yang baik, sense of humor, sense of music, pemahaman
alat siaran, pemahaman dan wawasan musik/lagu, dan sebagainya
tulis-menulis seperti artikel seputar dunia kepenulisan, berbagai
tips, artikel seputar bahasa dan tokoh dunia tulis-menulis yang
mendukung para penulis Kristen agar semakin trampil dalam bidang
tulis-menulis baik umum maupun dalam pelayanan literatur Kristen.
Formulir Berlangganan
Dasar-Dasar Jurnalistik
Pesatnya kemajuan
media informasi dewasa ini cukup memberikan kemajuan yang signifikan.
Media cetak maupun elektronik pun saling bersaing kecepatan sehingga
tidak ayal bila si pemburu berita dituntut kreativitasnya dalam
penyampaian informasi. Penguasaan dasar-dasar pengetahuan jurnalistik
merupakan modal yang amat penting manakala kita terjun di dunia ini.
Keberadaan media tidak lagi sebatas penyampai informasi yang aktual
kepada masyarakat, tapi media juga mempunyai tanggung jawab yang berat
dalam menampilkan fakta-fakta untuk selalu bertindak objektif dalam
setiap pemberitaannya.
Apa Itu Jurnalistik?
Menurut
Kris Budiman, jurnalistik (journalistiek, Belanda) bisa dibatasi secara
singkat sebagai kegiatan penyiapan, penulisan, penyuntingan, dan
penyampaian berita kepada khalayak melalui saluran media tertentu.
Jurnalistik mencakup kegiatan dari peliputan sampai kepada penyebarannya
kepada masyarakat. Sebelumnya, jurnalistik dalam pengertian sempit
disebut juga dengan publikasi secara cetak. Dewasa ini pengertian
tersebut tidak hanya sebatas melalui media cetak seperti surat kabar,
majalah, dsb., namun meluas menjadi media elektronik seperti radio atau
televisi. Berdasarkan media yang digunakan meliputi jurnalistik cetak
(print journalism), elektronik (electronic journalism). Akhir-akhir ini
juga telah berkembang jurnalistik secara tersambung (online journalism).
Jurnalistik atau jurnalisme, menurut Luwi Ishwara (2005), mempunyai ciri-ciri yang penting untuk kita perhatikan.
a. Skeptis
Skeptis
adalah sikap untuk selalu mempertanyakan segala sesuatu, meragukan apa
yang diterima, dan mewaspadai segala kepastian agar tidak mudah tertipu.
Inti dari skeptis adalah keraguan. Media janganlah puas dengan
permukaan sebuah peristiwa serta enggan untuk mengingatkan kekurangan
yang ada di dalam masyarakat. Wartawan haruslah terjun ke lapangan,
berjuang, serta menggali hal-hal yang eksklusif.
Ingin Berlangganan?
Publikasi e-Penulis menyajikan bahan-bahan bermutu seputar duniatulis-menulis seperti artikel seputar dunia kepenulisan, berbagai
tips, artikel seputar bahasa dan tokoh dunia tulis-menulis yang
mendukung para penulis Kristen agar semakin trampil dalam bidang
tulis-menulis baik umum maupun dalam pelayanan literatur Kristen.
Formulir Berlangganan
b. Bertindak (action)
Wartawan
tidak menunggu sampai peristiwa itu muncul, tetapi ia akan mencari dan
mengamati dengan ketajaman naluri seorang wartawan.
c. Berubah
Perubahan
merupakan hukum utama jurnalisme. Media bukan lagi sebagai penyalur
informasi, tapi fasilitator, penyaring dan pemberi makna dari sebuah
informasi.
d. Seni dan Profesi
Wartawan melihat dengan mata yang segar pada setiap peristiwa untuk menangkap aspek-aspek yang unik.
e. Peran Pers
Pers
sebagai pelapor, bertindak sebagai mata dan telinga publik, melaporkan
peristiwa-peristiwa di luar pengetahuan masyarakat dengan netral dan
tanpa prasangka. Selain itu, pers juga harus berperan sebagai
interpreter, wakil publik, peran jaga, dan pembuat kebijaksanaan serta
advokasi.
Berita
Ketika
membahas mengenai jurnalistik, pikiran kita tentu akan langsung tertuju
pada kata "berita" atau "news". Lalu apa itu berita? Berita (news)
berdasarkan batasan dari Kris Budiman adalah laporan mengenai suatu
peristiwa atau kejadian yang terbaru (aktual); laporan mengenai
fakta-fakta yang aktual, menarik perhatian, dinilai penting, atau luar
biasa. "News" sendiri mengandung pengertian yang penting, yaitu dari
kata "new" yang artinya adalah "baru". Jadi, berita harus mempunyai
nilai kebaruan atau selalu mengedepankan aktualitas. Dari kata "news"
sendiri, kita bisa menjabarkannya dengan "north", "east", "west", dan
"south". Bahwa si pencari berita dalam mendapatkan informasi harus dari
keempat sumber arah mata angin tersebut.
Selanjutnya berdasarkan jenisnya, Kris
Budiman membedakannya menjadi "straight news" yang berisi laporan
peristiwa politik, ekonomi, masalah sosial, dan kriminalitas, sering
disebut sebagai berita keras (hard news). Sementara "straight news"
tentang hal-hal semisal olahraga, kesenian, hiburan, hobi, elektronika,
dsb., dikategorikan sebagai berita ringan atau lunak (soft news). Di
samping itu, dikenal juga jenis berita yang dinamakan "feature" atau
berita kisah. Jenis ini lebih bersifat naratif, berkisah mengenai
aspek-aspek insani (human interest). Sebuah "feature" tidak terlalu
terikat pada nilai-nilai berita dan faktualitas. Ada lagi yang dinamakan
berita investigatif (investigative news), berupa hasil penyelidikan
seorang atau satu tim wartawan secara lengkap dan mendalam dalam
pelaporannya.
Nilai Berita
Sebuah berita jika disajikan haruslah memuat nilai berita di dalamnya. Nilai berita itu mencakup beberapa hal, seperti berikut.
- Objektif: berdasarkan fakta, tidak memihak.
- Aktual: terbaru, belum "basi".
- Luar biasa: besar, aneh, janggal, tidak umum.
- Penting: pengaruh atau dampaknya bagi orang banyak; menyangkut orang penting/terkenal.
- Jarak: familiaritas, kedekatan (geografis, kultural, psikologis).
Lima nilai berita di atas menurut Kris Budiman
sudah dianggap cukup dalam menyusun berita. Namun, Masri Sareb Putra
dalam bukunya "Teknik Menulis Berita dan Feature", malah memberikan dua
belas nilai berita dalam menulis berita (2006: 33). Dua belas hal
tersebut di antaranya adalah:
- sesuatu yang unik,
- sesuatu yang luar biasa,
- sesuatu yang langka,
- sesuatu yang dialami/dilakukan/menimpa orang (tokoh) penting,
- menyangkut keinginan publik,
- yang tersembunyi,
- sesuatu yang sulit untuk dimasuki,
- sesuatu yang belum banyak/umum diketahui,
- pemikiran dari tokoh penting,
- komentar/ucapan dari tokoh penting,
- kelakuan/kehidupan tokoh penting, dan
- hal lain yang luar biasa.
Dalam kenyataannya, tidak semua nilai itu akan
kita pakai dalam sebuah penulisan berita. Hal terpenting adalah adanya
aktualitas dan pengedepanan objektivitas yang terlihat dalam isi
tersebut.
Anatomi Berita dan Unsur-Unsur
Seperti tubuh kita, berita juga mempunyai bagian-bagian, di antaranya adalah sebagai berikut.
- Judul atau kepala berita (headline).
- Baris tanggal (dateline).
- Teras berita (lead atau intro).
- Tubuh berita (body).
Bagian-bagian di atas tersusun secara terpadu
dalam sebuah berita. Susunan yang paling sering didengar ialah susunan
piramida terbalik. Metode ini lebih menonjolkan inti berita saja. Atau
dengan kata lain, lebih menekankan hal-hal yang umum dahulu baru ke hal
yang khusus. Tujuannya adalah untuk memudahkan atau mempercepat pembaca
dalam mengetahui apa yang diberitakan; juga untuk memudahkan para
redaktur memotong bagian tidak/kurang penting yang terletak di bagian
paling bawah dari tubuh berita (Budiman 2005) . Dengan selalu
mengedepankan unsur-unsur yang berupa fakta di tiap bagiannya, terutama
pada tubuh berita. Dengan senantiasa meminimalkan aspek nonfaktual yang
pada kecenderuangan akan menjadi sebuah opini.
Untuk
itu, sebuah berita harus memuat "fakta" yang di dalamnya terkandung
unsur-unsur 5W + 1H. Hal ini senada dengan apa yang dimaksudkan oleh
Lasswell, salah seorang pakar komunikasi (Masri Sareb 2006: 38).
- Who - siapa yang terlibat di dalamnya?
- What - apa yang terjadi di dalam suatu peristiwa?
- WHERE - di mana terjadinya peristiwa itu?
- Why - mengapa peristiwa itu terjadi?
- When - kapan terjadinya?
- How - bagaimana terjadinya?
Tidak hanya sebatas berita, bentuk jurnalistik
lain, khususnya dalam media cetak, adalah berupa opini. Bentuk opini
ini dapat berupa tajuk rencana (editorial), artikel opini atau kolom
(column), pojok dan surat pembaca.
Sumber Berita
Hal penting lain yang dibutuhkan dalam sebuah
proses jurnalistik adalah pada sumber berita. Ada beberapa petunjuk
yang dapat membantu pengumpulan informasi, sebagaimana diungkapkan oleh
Eugene J. Webb dan Jerry R. Salancik (Luwi Iswara 2005: 67) berikut ini.
- Observasi langsung dan tidak langsung dari situasi berita.
- Proses wawancara.
- Pencarian atau penelitian bahan-bahan melalui dokumen publik.
- Partisipasi dalam peristiwa.
Kiranya tulisan singkat tentang dasar-dasar
jurnalistik di atas akan lebih membantu kita saat mengerjakan proses
kreatif kita dalam penulisan jurnalistik.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar